Rabu, 23 Mei 2012

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSARAFAN


PEMERIKSAAN FISIK SISTEM PERSARAFAN

1.      Pendahuluan.
Tubuh manusia akan berada dalam kondisi sehat jika mampu berespon dengan tepat terhadap perubahan-perubahan lingkungan secara terkoordinasi. Tubuh memerlukan koordinasi yang baik . Salah satu sistem komunikasi dalam tubuh adalah sistem saraf. Pengkajian system persarafan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menentukan diagnosa keperawatan tepat dan melakukan tindakan perawatan yang sesuai. Pada akhirnya perawat dapat mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan klien.

Pemeriksaan persarafan terdiri dari dua tahapan penting yaitu pengkajian yang berupa wawancara yang berhubungan dengan riwayat kesehatan klien yang berhubungan dengan system persarafan seperti riwayat hiopertensi, stroke, radang otak, atau selaput otak, penggunaan obat-obatan dan alcohol, dan penggunaan obat yang diminum secara teratur. Tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status mental, pemeriksaan saraf cranial, pemeriksaan motorik, pemeriksaan sensorik, dan pemeriksaan reflex. Dalam melakukan pemeriksaan fisik diperhatikan prinsip-prinsip head to toe, chepalocaudal dan proximodistal. Harus pula diperhatikan keamanan klien dan privacy klien.

2.      Prosedur Pemeriksaan Fisik Persarafan
1.      Persiapan
·         Siapkan peralatan yang diperlukan:
1.      Refleks hammer
2.      Garputala
3.      Kapas dan lidi
4.      Penlight atau senter kecil
5.      Opthalmoskop
6.      Jarum steril
7.      Spatel tongue
8.      2 tabung berisi air hangat dan air dingin
9.      Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh
10.  Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum
11.  Bahan-bahan yang berasa asin, manis atau asam seperti garam, gula, atau cuka
12.  Baju periksa
13.  Sarung tangan
·         Cuci tangan
·         Jelaskan prosedur pemeriksaan pada klien
·         Pastikan ruang periksa hangat dan cukup penerangan

2.      Langkah-langkah Pemeriksaan
·         Status mental: atur posisi klien, Observasi kebersihan klien, cara berpakaian, postur tubuh, bahasa tubuh, cara berjalan, expresi wajah, kemampuan berbicara, dan kemampuan untuk mengikuti petunjuk. Kemampuan berbicara klien meliputi: kecepatan, kemampuan mengucapkan kata-kata yang keras-lembut, jelaas, dan benar. Kaji pula kemampuan pemilihan kata-kata, kemampuan dan kemudahan merespon pertanyaan.
·         Tingkat Kesadaran klien: dikaji menggunakan Glasgow koma skale
1.      Respon membuka mata:
# Spontan………………………..4
# Terhadap stimulus verbal……...3
# Terhadap stimulus nyeri………2
# Tidak ada respon………………1
Respon motorik terbaik:
# Mengikuti perintah……………6
# Dapat melokalisasi nyeri………5
# Fleksi (menarik)……………….4
# Fleksi abnormal……………….3
# Extensi………………………..2
# Tidak ada respon……………..1
2.      Respon Verbal:
# Orientasi waktu, tempat, dan orang baik…………………..5
# Berbicara dengan bingung………………………………...4
# Berkata-kata dengan tidak jelas…………………………...3
# Berguman………………………………………………....2
# Tidak ada respon………………………………………… 1
Jika klien menggunakan ETT atau tracheostomi maka tulis E untuk ETT dan T untuk tracheostomy.
3.      Tanyakan waktu, tanggal, tempat, dan alas an berkunjung ke rumah sakit
4.      Tanyakan nama klien, nama anggota keluarga, tanggal lahir, riwayat pekerjaan untuk mengkaji memori klien
5.      Kaji kemampuan berhitung klien dari yang mudah dan meningkat ke yang lebih sulit secara bertahap, sesuaikan dengan tingkat pendidikan, tahap perkembangan , dan tingkat intelektualitas klien.
6.      Kaji kemampuan klien berpikir abstrak

- Pemeriksaan saraf kranial
a. N I Olfactorius
Pastikan rongga hidung tidak tersumbat oleh apapun dan cukup bersih. Lakukan pemeriksaan dengan menutup sebelah lubang hidung klien dan dekatkan bau-bauan seperti kopi dengan mata tertutup klien diminta menebak bau tersebut. Lakukan untuk lubang hidung yang satunya.
b. N II Optikus
Catat kelainan pada mata seperti katarak dan infeksi sebelum pemeriksaan. Periksa ketajaman dengan membaca, perhatikan jarak baca atau menggunakan snellenchart untuk jarak jauh.
Periksa lapang pandang: Klien berhadapan dengan pemeriksa 60-100 cm, minta untuk menutup sebelah mata dan pemeriksa juga menutup sebelah mata dengan mata yang berlawanan dengan mata klien. Gunakan benda yang berasal dari arah luar klien dank lien diminta ,mengucapkan ya bila pertama melihat benda tersebut. Ulangi pemeriksaan yang sama dengan mata yang sebelahnya. Ukur berapa derajat kemampuan klien saat pertama kali melihat objek. Gunakan opthalmoskop untuk melihat fundus dan optic disk (warna dan bentuk)
c. N III , N IV, dan N VI (occulomotorius, trochlear, dan abducen):
Pada mata diobservasi apakah ada odema palpebra, hiperemi konjungtiva, dan ptosis kelopak mata
Pada pu[il diperiksa reaksi terhadap cahaya, ukuran pupil, dan adanya perdarahan pupil
Pada gerakan bola mata diperiksa enam lapang pandang (enam posisi cardinal) yaitu lateral, lateral ke atas, medial atas, medial bawah lateral bawah. Minta klien mengikuti arah telunjuk pemeriksa dengan bolamatanya
d. N V Trigeminus
Fungsi sensorik diperiksa dengan menyentuh kilit wajah daerah maxilla, mandibula dan frontal dengan mengguanakan kapas. Minta klien mengucapkan ya bila merasakan sentuhan, lakukan kanan dan kiri.
Dengan menggunakan sensori nyeri menggunakan ujung jarum atau peniti di ketiga area wajah tadi dan minta membedakan benda tajam dan tumpul.
Dengan mengguanakan suhu panas dan dingin juag dapat dilakukan diketiga area wajah tersebut. Minta klien menyebutkan area mana yang merasakan sentuhan. Jangan lupa mata klien ditutup sebelum pemeriksaan.
Dengan rasa getar dapat pukla dilakukan dengan menggunakan garputala yang digetarkan dan disentuhkan ke ketiga daerah wajah tadi dan minta klien mengatakan getaran tersebut terasa atau tidak
Pemerikasaan corneal dapat dilakukan dengan meminta klien melihat lurus ke depan, dekatkan gulungan kapas kecil dari samping kea rah mata dan lihat refleks menutup mata.
Pemeriksaan motorik dengan mengatupkan rahang dan merapatkan gigi periksa otot maseter dan temporalis kiri dan kanan periksa kekuatan ototnya, minta klien melakukan gerakan mengunyah dan lihat kesimetrisan gerakan mandibula.
e. N VII Facialis:
Fungsi sensorik dengan mencelupkan lidi kapas ke air garam dan sentuhkan ke ujung lidah, minta klien mengidentifikasi rasa ulangi untuk gula dan asam
Fungsi mootorik dengan meminta klien tersenyum, bersiul, mengangkat kedua al;is berbarengan, menggembungkan pipi. Lihat kesimetrisan kanan dan kiri. Periksa kekuatan otot bagian atas dan bawah, minta klien memejampan mata kuat-kuat dan coba untuk membukanya, minta pula klien utnuk menggembungkan pipi dan tekan dengan kedua jari.
f. N VIII Vestibulotrochlear
cabang vestibulo dengan menggunakan test pendengaran mengguanakan weber test dan rhinne test
Cabang choclear dengan rombreng test dengan cara meminta klien berdiri tegak, kedua kaki rapat, kedua lengan disisi tubuh, lalu observasi adanya ayunan tubuh, minta klien menutup mata tanpa mengubah posisi, lihat apakah klien dapat mempertahankan posisi
7.      NIX dan NX Glossofaringeus dan Vagus
Minta klien mengucapkan aa lihat gerakan ovula dan palatum, normal bila uvula terletak di tengan dan palatum sedikit terangkat.
Periksa gag refleks dengan menyentuh bagian dinding belakang faring menggunakan aplikator dan observasi gerakan faring.
Periksa aktifitas motorik faring dengan meminta klien menel;an air sedikit, observasi gerakan meelan dan kesulitan menelan. Periksa getaran pita suara saat klien berbicara.
8.      N XI Assesorius:
Periksa fungsi trapezius dengan meminta klien menggerakkan kedua bahu secara bersamaan dan observasi kesimetrisan gerakan.
Periksa fungsi otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien menoleh ke kanan dank e kiri, minta klien mendekatkan telinga ke bahu kanan dan kiri bergantian tanpa mengangkat bahu lalu observasi rentang pergerakan sendi
Periksa kekuatanotottrapezius dengan menahan kedua bahu klien dengan kedua telapak tangan danminta klien mendorong telapak tangan pemeriksa sekuat-kuatnya ke atas, perhatikan kekuatan daya dorong.
Periksa kekuatan otot sternocleidomastoideus dengan meminta klien untuk menoleh kesatu sisi melawan tahanan telapak tangan pemeriksa, perhatikan kekuatan daya dorong
i. N XII Hipoglosus
Periksa pergerakan lidah, menggerakkan lidah kekiri dan ke kanan, observasi kesimetrisan gerakan lidah
Periksa kekuatan lidah dengan meminta klien mendorong salah satu pipi dengan ujung lidah, dorong bagian luar pipi dengan ujung lidah, dorong kedua pipi dengan kedua jari, observasi kekuatan lidah, ulangi pemeriksaan sisi yang lain

- Pemeriksaan Motorik.
Kaji cara berjalan dan keseimbangan dengan mengobservasi cara berjalan, kemudahan berjalan, dan koordinasi gerakan tangan dan kaki. Minta klien berjalan dengan menyentuhkan ibujari pada tumit kaki yang lain (heel to toe), minta klien jalan jinjit dan minta klien berjalan dengan bertumpu pada tumit.
Lakukan romberg test
Lakukan pemeriksaan jari hidung dengan mata terbuka dan tertutup, evaluasi perbedaan yang terjadi.
Tes pronasi dan supinasi dengan meminta klien duduk dan meletakan telapak tangan di paha, minta untuk melakukan pronasi dan supinasi bergantian dengan cepat. Observasi kecepatan, irama, dan kehalusan gerakan.
Melakukan pemeriksaan heel to shin test dengan meminta klien tidur pada posisi supine, minta klien menggesekkan tuimit telapak kaki kiri sepanjang tulang tibia tungkai kanan dari bawah lutut sampai ke pergelangan kaki. Ulangi pada kaki kanan. Observasi kemudahan klien menggerakkan tumit pada garis lurus

- Pemeriksaan sensorik
Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan stimulus secara acak pada bagian tubuh klien dan dapat berupa sentuhan ringan seperti kapas, tumpul dan tajam, suhu, getaran, identifikasi objek tanpa melihat objek (stereognosis test), merasakan tulisan di tangan (graphesthesia test), kemampuan membedakan dua titik, kemampuan mengidentifikasi bagian tubuh yang diberi sentuhan dengan menutup mata (topognosis test)

·         Reflex
·         Biseps: Klien diminta duduk dengan rilekx dan meletakkan kedua lengan diatas paha, dukung lengan bawah klien dengan tangan non dominan, letakkan ibujari lengan non dominan diatas tendon bisep, pukulkan refleks hammer pada ibu jari, observasi kontraksi otot biseps (fleksi siku)
·         Triseps: Minta klien duduk, dukung siku dengan tangan non dominan, pukulkan refleks hammer pada prosesus olekranon, observasi kontraksi otot triseps (ekstensi siku)
·         Brachioradialis: Minta klien duduk dan meletakkan kedua tangan di atas paha dengan posisi pronasi, pukulkan hammer diatas tendon (2-3 inchi dari pergelangan tangan), observasi fleksi dan supinasi telapak tangan.
·         Patelar: Minta klien duduk dengan lulut digantung fleksi, palpasi lokasi patella (interior dari patella), pukulkan reflek hammer, perhatikan ekstensi otot quadriceps
·         Tendon archiles: Pegang telapak kaki klien dengan tangan non dominant, pukul tendon archiles dengan mengguanakan bagian lebar refleks hammer, obsvasi plantar leksi telapak kaki
·         Plantar: Minta klien tidur terlentang dengan kedua tungkai sedikit eksternal rotasi, stimulasi telapak kaki klien dengan ujung tajam refleks hammer mulai dari tumit kearah bagain sisi luar telapak kaki, observasi gerakan telapak kaki (normal jika gerakan plantar fleksi dan jari-jari kaki fleksi).
·         abdomen: minta klien tidur terlentang, sentuhkan ujung aplikator ke kulit di bagian abdomen mulai dari arah lateral ke umbilical, observasi kontraksi otot abdomen, lakuakan prosedur tersebut pada keempat area abdomen.
3.      Penutup
Setelah melakukan pemeriksaan fisik, klien dikembalikan pada posisi yang nyaman, jelaskan kesimpulan dari pemeriksaan fisik, jika ditemukan kelainan didiskusikan dengan tim medis. Tahap akhir adalah pendokumentasian. Catat dengan teliti dan sistematis, dapat dimengerti oleh setiap anggota tim kesehatan.Description: http://dc120.4shared.com/doc/KKzGBsjL/preview_html_m4d466bb7.png
                                                                                            Terima kasih
By wachyu

proses keperawatan jiwa



PROSES KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

Logo










Disusun oleh :
WAHYU DAYATMONO
G0A010055


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SEMARANG
2012

A. DEFINISI
Dalam mengimplementasikan terapi ini, perawat mendemonstrasikan penerimaan, pengertian tentang klien, meningkatkan interest dan partisipasi. Pada realitas, klien diperlakukan secara individual dan unik, jadi sikap perawat harus sesuai dengan masalah yang dihadapi pasien.
Perawatan kesehatan jiwa adalah proses berhubungan yang meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang akan menyokong integritas fungsi. Yang dimaksud klien meliputi individu, kelompok, keluarga, organisasi atau masyarakat.
Menurut American Nurses Association (ANA) divisi perawatan kesehatan jiwa, mendefinisikan perawatan kesehatan jiwa sebagai area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu perilaku manusia dan diri sendiri secara terapeutik untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan jiwa klien dan meningkatkan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada.
Suatu metode pemberian asuhan keperawatan yang sistematis dan rasional (Kozier, 1991).
Metode pemberian asuhan keperawatan yang terorganisir dan sitematis, berfokus pada respon yang unik dari individu atau kelompok individu terhadap masalah kesehatan yang aktual dan potensial (Rosalinda, 1996).

B. TUJUAN
Tujan proses keperawatan dapat disimpulkan sebagai berikut :
bagi perawat :
a.       Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.
b.      Tersedianya pola pikir/kerja yang logis, ilmiah, sistematis dan terorganisasi.
c.       Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat.
d.      Peningkatan kepuasan kerja.
e.       Sarana/wahana desiminasi IPTEK keperawatan.
f.       Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian
bagi klien :
a.       Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
b.      Terhindar dari malpraktik.

C. LANGKAH PROSES KEPAERAWATAN KESEHATAN JIWA
1.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan, yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart dan Sundeen 1995, dikutip : Keliat, 1998). Cara lain dapat berfokus pada lima dimensi yaitu Fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk dapat menjaring data dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk teknis pengkajian agar mudah dalam pengkajian.
Adapun isi pengkajian meliputi : Identitas klien, keluhan utama/alasan masuk, faktor predisposisi, aspek pisik/biologis, aspek psikologis, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan dan aspek medik.
Data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu data obyektif dan data subyektif. Selanjutnya perawat dapat menyimpulkan kebutuhan atau masalah klien, sebagai berikut :
1)      Tidak ada masalah tetapi ada kebutuhan :
  1. Klien tidak memerlukan peningkatan kesehatan, klien hanya memerlukan pemeliharaan kesehatan dan memerlukan follow up secara periodik karena tidak ada masalah serta klien telah mempunyai pengetahuan untuk antisipasi masalah.
  2. Klien memerlukan peningkatan kesehatan berupa prevensi dan promosi sebagai program antisipasi terhadap masalah
2)      Ada masalah dengan kemungkinan :
a.       Risiko terjadi masalah karena sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah.
b.      Aktual terjadi masalah disertai data pendukung.
Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasid, 1993 dan INJF, 1996, dikutip : Keliat, 1998). Agar penentuan pohon masalah dapat dipahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan tiga komponen yang terdapat pada pohon masalah yaitu : penyebab (causa) masalah utama (core problem) dan effect (akibat).
Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki klien. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek/akibat dari masalah utama.









 










Gambar : contoh pohon masalah aspek jiwa

2.      Diagnosa Keperawatan
Pengertian diagnosa keperawatan yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut :
  1. Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian (Gabie, dikutip oleh Carpenito, 1993).
  2. Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau potensial dan berdasarkan pendidikan dan pengalamannya perawat mampu mengatasinya, (Gordon, dikutip oleh Carpenito, 1983)
  3. Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual atau potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan (Carpenito, 1995)
  4. Diagnosa keperawatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap respon klien baik aktual maupun potensial.
(Stuart dan Sundeen, 1995).
Diagnosa keperawatan dapat dirumuskan PE (Problem, Etiologi) keduanya ada hubungan sebab akibat dan rumusan PES (Problem, Etiologi, Simptom atau gejala sebagai data penunjang). Adapun tipe-tipe diagnosanya yaitu : Diagnosa aktual, diagnosa resiko tinggi, diagnosa mungkin dan masalah kolaboratif.

3.      Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum memfokuskan kepada penyelesaian masalah (P) dari diagnosa tertentu, tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah dicapai. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosa tertantu. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki klien. Umumnya kemampuan pada tujuan khusus dapat dibagi menjadi tiga aspek Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari diagnosa keperawatan, kemampuan psikomotor yang diperlukan agar etiologi dapat selesai dan kemampuan afektif agar klien precaya akan kemampuan menyelesaikan masalah. Kata kerja yang digunakan untuk menuliskan tujuan ini harus berfokus pada perilaku.




Tabel kata kerja untuk tujuan
No
Aspek/Domain
Kata kerja yang dipakai
1

2

3
Kognitif

Afektif

Psikomotor
Jelaskan, hubungkan, uraikan, identifikasikan, bandingkan, diskusikan, membuat daftar, menyebutkan,
Menerima, mengakui, menyadari, menyiapkan, menilai, mengungkapkan, mempercayai.
Menempatkan, meniru, menyiapkan, mengulang, mengubah, mendemonstrasikan, menampilkan, memberi.

4.      Implementasi Tindakan Keperawatan
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu menvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini (here and now).
Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, teknikel, sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi klien. Lakukan kontrak dengan klien yang diharapkan. Dokumentasikan semua tindakan yang dikerjakan dan respon klien.

5.      Evaluasi Tindakan Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respoons klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dibagi menjadi dua yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan tujuan umum yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir:
S    =    Respon subyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
O   =    Respon obyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A   =    Analisa ulang atas data subyektif dan obyektif atau muncul untuk menyimpulkan apakah masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P    =    Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.
Rencana tindak lanjut dapat berupa :
g.      Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah.
h.      Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan.
i.        Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan.
j.        Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru.
Klien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat melihat perubahan dan berupaya mempertahankan dan memelihara. Pada evaluasi sangat diperlukan reinforcement untuk menguatkan perubahan yang positif. Klien dan keluarga juga dimotivasi untuk melakukan self reinforcement.



6.      Dokumentasi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pendokumentasian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa
  1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah menarik atau menuntun kemampuan-kemampuan yang masih “tidur” menjadi aktif dan nyata. Tingkat aktif dan nyata yang timbul dari dan bergantung dari kesadaran-kesadaran yang mendukungnya pada tiap-tiap individu (Imam Barnadit, 1985)
Menurut Umar Tirtaraharja, dkk. Pendidikan formal, non formal dan informal adalah subsistem dari bidang pendidikan sebagai sistemnya. Sedangkan sistem pendidikan nasional Indonesia seperti dituangkan dapam Tap MPR No. II/MPR/1988 bertujuan untuk :
a)      Meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman, bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tanggung jawab, mandiri, cerdas dan trampil dan sehat jasmani rohani.
b)      Menumbuhkan dan memperdalam ; rasa cinta pada tanah air, semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial.
c)      Mengembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan ; rasa percaya diri, sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif.
d)     Mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat ; membangun diri sendiri dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
  1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari “Tahu” ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran (Notoatmojo, 1997).
Menurut Bloom pengetahuan dicakup dalam domain kognitif ada 6 tingkatan :
a)   Mengingat yaitu suatu kemampuan menulang materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b)   Memahami yaitu suatu kemampuan menjelaskan, menginterpretasikan dan menyimpulkan tentang obyek yang diketahui secara benar.
c)   Aplikasi yaitu suatu kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil.
d)  Analisis yaitu suatu kemampuan menyebarkan materi/obyek ke dalam komponen-  komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih berkaitan satu sama lain.
e)   Sintesis yaitu suatu kemampuan meletakkan, menghubungkan atau menyusun formulasi baru dari informasi yang sudah ada.
f)    Evaluasi yaitu suatu kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi/obyek.
  1. Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti mendorong/menggerakkan (Tri Rusmi Widayatun, 1999)
Motivasi artinya dorongan atau kehendak yang menyebabkan timbulnya semacan kekuatan agar seseorang itu berbuat atau bertingkah laku. Karena tingkah laku tersebut dilatar belakangi motiv maka disebut tingkah laku bermotivasi. Dorongan atau kehendak timbul karena ada kekurangan/kebutuhan yang menyebabkan keseimbangan dalam jiwa seseorang terganggu (Singgih Dirgagunarsa, 1983)
Motivasi adalah proses mengajak seseorang atau sekelompok orang, masing-masing dengan pribadi dan kebutuhan yang berbeda untuk mewujudkan sasaran/tujuan bersama sekaligus tujuan pribadi (Sri Pramodawardhani, 1996).
Tingkah laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai “Tingkah laku yang dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian tujuan serta kehendak terpuaskan”.

  1. Formulir Pengkajian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa
Adalah alat untuk mendapatkan data lengkap klien di RS. Jiwa yang meliputi ; identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, dkk, 1999). Formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa tersebut diisi oleh perawat selama klien dirawat sampai persiapan pulang dari RS.

  1. Petunjuk teknis (Juknis) Pengisian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Adalah pedoman yang dapat menuntun perawat dalam mengisi formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa yang meliputi cara pengisian identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, dkk, 1999).
  1. Prosedur Tetap (Protap) Kerja
Adalah standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa sehingga pelayanan keperawatan kesehatan jiwa dapat dipertanggungjawabkan/gugat secara profesional. Standar tersebut merupakan komponen utama dalam mengendalikan mutu keperawatan karena dapat dijadikan tolak ukur dalam mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan (Depkes RI, 1998).
Adapun standar/protap keperawatan kesehatan jiwa meliputi :
a)      Standar Askep kesehatan jiwa
            Standar I         teori
            Standar II        pengumpulan data
            Standar III      diagnosis
            Standar IV      perencanaan
            Standar V        tindakan
            Standar V.a.    Tindakan psikoterapeutik
            Standar V.b.    Tindakan pendidikan kesehatan
            Standar V.c.    Tindakan kehidupan sehari-hari
            Standar V.d.   Tindakan terapi somatik
            Standar V.e.    Tindakan lingkungan terapeutik
                        Standar V.f.    Tindakan psikoterapi
                        Standar VI      evaluasi
a)      Standar Askep kesehatan jelas pada gangguan perilaku seperti : halusinasi, panik,
perilaku curiga, perilaku depresi, perilaku manarik diri, perilaku acuh, perilaku waria, perilaku bunuh diri dan harga diri rendah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Keliat budi anna;Panjaitan;Helena.2005.proses Keparawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2.Jakarta:EGC
  2. Stuart, Gall W.2007>Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC
  3. Suliswati,2005. Konsep Dasar Keperawatn  Kesehatan Jiwa.Jakarta:EGC
  4. Yosep,Iyus.2007.Keperawatan Jiwa.Jakarta:PT.Refika Aditama.